Rubaiyat Terlarang Rumi - Nyanyian Untuk Shams, Nyanyian Untuk Tuhan #1
Ia Mengepitku
Aku telah mati, tetapi hidup kembali.
Aku adalah tangis, tetapi kini aku senyuman.
Cinta datang dan mengubahku.
Menjadi keagungan kekal.
Inilah kisahnya :
Ia berkata padaku : "Kau bukan penghuni rumah ini.
Kau belum cukup gila."
Aku pun beranjak dan menjadi gula bersemangat
dan mengikatkan diriku dengan rantai.
Ia berkata padaku : "Kau tidak mabuk. Enyahlah.
Kau bukan dari daerah sini."
Aku pun beranjak dan mabuk kepayang
dan mengisi hidupku dengan musik dan tari.
Ia berkata padaku : "Kau tidak pernah hancurkan dirimu
maka musik dan nyanyian tak bisa menyentuh engkau."
Aku tak sadarkan diri tepat di depannya
dan jerembab di tanah
Ia berkata padaku : "Kau berpikiran sehat, terpelajar,
penuh refleksi dan gagasan."
Aku menjadi tolol dan konyol
dan memisahkan diri dari orang-orang.
Ia berkata kepadaku, "Kau adalah sebatang lilin,
cahaya bagi orang-orang ini."
Aku memberikan diriku kepada mereka sepenuhnya.
Aku menjadi asap dan menyebarkan diriku ke mana-mana.
Ia berkata padaku : "Kau seorang syekh, pemimpin,
orang yang berjalan di depan, penunjuk jalan."
Kukatakan padanya aku bukan syekh dan bukan penunjuk jalan
Aku pengikut ordomu.
Ia berkata padaku : "Kau punya tangan dan sayap.
Aku tidak memberi apa pun kepadamu."
Kukatakan padanya aku inginkan sayapnya sehingga
aku bisa potong sayapku.
Keagungannya lalu bicara kepadaku dan berkata,
"Jangan menyerah sekarang. Kau sudah hampir sampai.
Aku akan segera menganugerahkan yang kau suka
dan menemuimu."
Maka ia pun berkata kepadaku, "O, kekasihku selalu,
jangan pernah lepas dari kepitanku."
Dan aku menjawab : "Ya!" dan aku tetap di sana.
Komentar
Posting Komentar